Zakat

Abu Bakar radhiyallahu anhu ketika dimasa pemerintahannya, sebagian kabilah enggan untuk mengeluarkan zakat yang dimasa Rasullah Salallahu Alaihi Wasallam mereka keluarkan, maka Abu Bakar sebelum memerangi orang-orang kafir beliau perangi dulu orang-orang ini, dan ternyata dengan izin Allah, ini adalah strategi yang sangat mengagumkan. Karena orang-orang menganggap dalam kondisi begitu, mereka mampu membersihkan dari dalam. Maka darahpun di tumpahkan bukan sekedar basa basi, ini semua untuk siapa? Yaitu untuk orang-orang fakir miskin baik yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta. Ini juga menunjukkan pentingnya zakat karena berkaitan dengan hak kaum fakir miskin. Yang penting diingat bahwa mereka tidak diperangi karena kafir, mereka masih muslim akan tetapi muslim yang fasik.

Kemudian ingatlah bahwa ketika kita berzakat, zakat tersebut tidak mengurangi harta kita. Walaupun hakekatnya kekayaan kita berkurang 2,5 % dalam zakat perniagaan, emas dan perak, namun sebetulnya 2,5% yang kita keluarkan akan Allah lipat gandakan. Satu kebaikan akan Allah lipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan, kemudian Allah lipat gandakan kembali hingga mencapai 700 kali lipat. Dan bagi orang-orang yang Allah kehendaki akan dilipat gandakan lebih dari 700 kali lipat tersebut. Allah berfirman :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menumbuh kembangkan sedekah”. (QS. Al Baqarah: 276).

Definisi Zakat

Kata “zakat” di tinjau dari segi bahasa berarti “annumuw” yang artinya tumbuh. Dikatakan “zaka azzar’u” artinya tumbuhan itu tumbuh, kapan dikatakan zaka azzar’u? yaitu ketika tumbuhan itu tumbuh dengan baik.

Secara istilah syariat adalah “mengeluarkan bagian harta tertentu dan diberikan pada golongan tertentu”.

Dalam 82 ayat Al-quran Allah menggandengkan perintah shalat dengan perintah zakat, sehingga ahli tafsir menjelaskan bahwa diantara hikmahnya adalah menunjukkan pentingnya masalah zakat sebagaimana pentingnya masalah shalat dalam Islam. Hal ini menunjukkan juga bahwa shalat merupakan kewajiban manusia yang harus dikerjakan untuk Allh, dan zakat juga merupakan kewajiban yang berhubungan dengan harta untuk diberikan kepada manusia yang lain. Sebagian para ulama menjelaskan bahwa Islam bertumpu kepada dua hal :

Pertama : mengikhlaskan ibadah kepada Allah

Kedua : berbuat baik kepada manusia.

Diantara berbuat baik kepada manusia yang diwajibkan adalah mengeluarkan zakat yang diberikan kepada orang tertentu. Dan sebuah kewajiban yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, bukanlah untuk memberatkan manusia, melainkan untuk kemashlahatan manusia itu sendiri.

Hikmah Syariat Zakat

Nyatalah bahwa zakat memilki hikmah yang luar biasa sekali, diantaranya sebagaimana yang dijelaskan ulama yang berdasarkan nash-nash Al-quran dan hadist bahwa zakat membersihkan orang yang mengelurkan zakat dari dosa. Diriwayatkan oleh Tirmizi dan Al Hakim dalam kitabnya “Mustadrok” dan di shahihkan oleh Zhahabi bahwa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الماءُ النَّارَ

“Zakat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api”

Maka jelaslah bahwa zakat akan menyebabkan seseorang bersih dari dosa-dosanya, padam dosa-dosanya sebagaimana air memadamkan api.

Kemudian selain membersihkan seseorang dari dosa, juga membersihkan dari sifat kikir. Sifat kikir ini merupakan penyakit kejiwaan, orang kikir tidak akan bisa hidup bahagia karena setiap dia mengeluarkan hartanya dia akan merasa sakit, sedih sampai dia mengeluarkan harta untuk dirinya dia akan merasa berat. Sedih karena dia merasa telah mengumpulkannya dengan susah payah. Dan penyakit ini diobati oleh Allah Subhanahu Wata’ala melalui zakat, dan kikir ini memang sudah menjadi sifat manusia yang telah kita katakan di awal, Allah mengatakan :

Bahkan Allah juga mengatakan :

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ

Sekalipun manusia diberikan seluruh bentuk kekayaan oleh Allah maka ia akan kikir, takut untuk membelanjakannya”. (QS. Al Isaraa’: 100).

Sifat kikir inilah yang dihapus oleh zakat dalam firman Allah :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

Ambillah dari harta orang-orang kaya zakat untuk membersihkan diri mereka.

Karena Allah tahu bahwa manusia berat untuk mengelurkan zakat, sehingga Allah perintahkan kepada pemegang kekuasaan (pemimpin) untuk menarik zakat dari manusia.

Banyak kita lihat dalam ayat yang kita baca dalam shalat kita, ayat-ayat yang mengenai perintah zakat sehingga kita mengetahui mengenai kewajiban zakat, tapi jarang orang yang sadar untuk mengeluarkan zakat sehingga dibutuhkan untuk diambil secara paksa. Yang mana Allah perintahkan “ambillah’ berarti dengan cara paksa, dan juga dalam hadist bahwa Rasulullah mengatakan :

وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ، عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ

“Orang yang enggan mengeluarkan zakatnya kami ambil zakatnya dan diambil sebagian dari hartanya sebagai denda. Ketentuan dari Rabb kami”. (HR. Abu Daud, dan dihasankan oleh Al Albani).

Memang sudah tabiat manusia seperti demikian, sehingga amil tidak menunggu saja akan tetapi datang untuk menjemput, menghitung kemudian mengambil, apabila tidak mau, maka dipaksa, dan apabila telah dipaksa juga tidak mau, dan mesti dengan menumpahkan darah maka darahpun harus ditumpahkan.

Abu Bakar radhiyallahu anhu ketika dimasa pemerintahannya, sebagian kabilah enggan untuk mengeluarkan zakat yang dimasa Rasullah Salallahu Alaihi Wasallam mereka keluarkan, maka Abu Bakar sebelum memerangi orang-orang kafir beliau perangi dulu orang-orang ini, dan ternyata dengan izin Allah, ini adalah strategi yang sangat mengagumkan. Karena orang-orang menganggap dalam kondisi begitu, mereka mampu membersihkan dari dalam. Maka darahpun di tumpahkan bukan sekedar basa basi, ini semua untuk siapa? Yaitu untuk orang-orang fakir miskin baik yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta. Ini juga menunjukkan pentingnya zakat karena berkaitan dengan hak kaum fakir miskin. Yang penting diingat bahwa mereka tidak diperangi karena kafir, mereka masih muslim akan tetapi muslim yang fasik.

Kemudian ingatlah bahwa ketika kita berzakat, zakat tersebut tidak mengurangi harta kita. Walaupun hakekatnya kekayaan kita berkurang 2,5 % dalam zakat perniagaan, emas dan perak, namun sebetulnya 2,5% yang kita keluarkan akan Allah lipat gandakan. Satu kebaikan akan Allah lipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan, kemudian Allah lipat gandakan kembali hingga mencapai 700 kali lipat. Dan bagi orang-orang yang Allah kehendaki akan dilipat gandakan lebih dari 700 kali lipat tersebut. Allah berfirman :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan riba dan menumbuh kembangkan sedekah”. (QS. Al Baqarah: 276).

Orang yang berbuat riba dengan hartanya, walaupun pada tampak lahir hartanya bertambah dengan masuknya riba, tapi sebetulnya dia menghancurkan dan memusnahkan hartanya. Hartanya yang lain juga ikut musnah, dan sebaliknya orang yang mengeluarkan sedekah, mengeluarkan zakat, secara lahiriah orang melihat hartanya berkurang akan tetapi sebetulnya Allah kembangkan hartanya.

Ini adalah susunan kalimat yang sangat agung sekali yang bisa kita pahami dari firman Allah “Allah menghapuskan riba dan menumbuh kembangkan sedekah” riba ketika lahiriahnya bertambah tetapi hakekatnya hancur, sebaliknya sedekah dan zakat pada lahiriahnya berkurang sesungguhnya pada saat itu Allah sedang menumbuh kembangkan harta itu.

Kemudian dalam zakatlah adanya keadilan sosial. Kita tahu, tidak semua manusia diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala rizki yang sama, Allah berfirman :

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki” (QS. An Nahl: 71).

Dan ketika kita ketahui bahwa harta apabila telah sampai satu tahun dan mencapai nisab zakat, maka harta yang wajib dikeluarkan itu bukanlah milik orang yang mempunyai harta tersebut akan tetapi berpindah kepemilikannya menjadi hak milik orang fakir miskin. Dan hak ini Allah yang menetapkannya.

Allah yang memerintahkan untuk mengeluarkannya dan bila tidak mau dikeluarkan oleh penahan harta zakat ini, bukan fakir miskin yang Allah perintahkan untuk memaksa orang-orang kaya untuk mengeluarkan harta mereka, tetapi pihak ketiga yaitu pemimpin yang Allah perintahkan untuk mengambil.

Bila syariat zakat ini tidak dilakukan, baik yang mempunyai harta walaupun kadang mengeluarkan tetapi dengan asal-asalan, atau sebagian yang memang tidak mau mengeluarkannya, dan pemimpin tidak acuh, atau hanya sekedar himbaun tidak sampai untuk menariknya bahkan untuk memaksa, kemudian fakir miskin hidup dengan keadaan terlunta-lunta maka akan terjadi kondisi dimana terdapat manusia-manusia yang kelaparan dan manusia-manusia yang tidak terbalut pakaian dan beratapkan langit.

Rasulullah bersabda yang diriwayatkan Thabrani, Haitsami mengatakan sanadnya shahih Rasulullah bersabda :

«إِنَّ الله فَرَضَ عَلَى أَغْنِيَاءِ المُسْلِمِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ قَدْرَ الَّذِي يَسَعُ فُقَرَاءَهُمْ، وَلَنْ يُجْهَدَ الْفُقَرَاءُ إِلَّا إِذَا جَاعُوا وَعُرُّوا مِمَّا يَصْنَعُ أَغْنِيَاؤُهُمْ، أَلَا وَإِنَّ الله مُحَاسِبُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِسَابًا شَدِيدًا، وَمُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا نُكْرًا»

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan pada setiap harta orang-orang muslim yang kaya (zakat) yang mencukupi untuk menutupi kebutuhan orang-orang muslim yang fakir. Dan tidaklah mereka kelaparan dan tubuh mereka tidak berbalut pakaian melainkan karena orang-orang kaya tidak mengeluarkan zakat. Ketahuilah! Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung-jawaban mereka (orang kaya yang tidak berzakat) dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih“.

Ingatlah bahwa orang-orang fakir tersebut tidaklah menjadi kelaparan dan tidak berbalut pakaian melainkan karena orang-orang kaya tidak membayar zakatnya, inilah yang menimbulkan ketidak harmonisan.

Kemudian zakat juga berdampak banyak dalam sosial ekonomi, karena bila harta hanya beredar diantara sekolompok orang tidak akan bergerak, yang bisa berbelanja hanya orang-orang kaya saja. Namun apabila orang-orang kaya ini mengeluarkan zakat mereka, maka roda ekonomi akan bergerak, karena orang-orang miskin dapat berbelanja kebutuhan mereka, namun apabila mereka tidak memiliki uang dengan apa mereka membeli?

Bila hak mereka di keluarkan oleh orang-orang kaya dalam bentuk zakat, maka mereka dapat belanja dan bergeraklah roda ekonomi.

Dan dalam hal ini juga banyak manfaat sosialnya sebagaimana yang di katakan para ulama kita bahwa orang yang fakir ketika melihat orang-orang kaya diantara mereka pasti ada rasa kecemburuan dan ketika orang kaya mengeluarkan zakatnya dan apalagi mereka mengantarkannya ke rumah-rumah orang fakir maka akan timbullah keharmonisan hidup antara miskin dan kaya. Mereka melihat orang-orang kaya membantu meringankan beban mereka, maka dengan demikian orang –orang fakir ini nanti siap membantu orang-orang kaya. Namun apabila ini tidak tercapai, dikawatirkan akan timbul kecemburuan sosial. Dengan timbulnya masalah sedikit saja maka akan timbullah ketidak harmonisan.

Artikel: erwanditarmizi.com

(9)

Komentar

komentar

Leave A Comment