Skip to main content

Learning and Sharing

Benarkah Kurma Bisa Melancarkan Persalinan?

Tags: ,

Ada beberapa orang yang salah paham dengan ayat di surat Maryam, di mana diceritakan bahwa Maryam dalam keadaan lemah dengan kehamilannya, ia diperintahkan untuk menggoyangkan sedikit pohon kurma sehingga jatuhlah buah kurma muda dan bisa ia konsumsi. Sebagian (kecil) orang memahami bahwa kurma ini adalah obat atau makanan yang bisa melancarkan persalinan. Ini adalah anggapan yang kurang tepat jika berdalil dengan ayat tersebut semata.

Memang benar kurma sangat baik untuk memberikan tenaga dan nutrisi ketika akn melahirkan, akan tetapi sekedar memberikan nutrisi saja belum tentu bisa melancarkan persalinan dan juga sebaiknya ada penelitiannya atau pengalaman dari thabib yang terpercaya dan berpengalaman.

Terlebih lagi setelah membaca tafsir ulama mengenai ayat tersebut. Kurma adalah makanan yang baik bagi orang yang nifas. Jadi lebih ke arah setelah melahirkan, bukan ketika akan melahirkan.

Berikut ayatnya, Allah Ta’ala berfirman,

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25)

“Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (maryam) berkata, ‘wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.’ Maka dia (jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, ‘janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) ini akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (Qs: Maryam 23-24).Kurma

Tafsir ulama pada ayat ini adalah kurma merupakan makan yang baik bagi wanita nifas, berarti setelah melahirkan.

Ahli Tafsir Al-Baghawi rahimahullah membawakan perkataan Ar-Rabi’ bin Khutsaim dalam tafsirnya,

ما للنفساء عندي خير من الرطب ، ولا للمريض خير من العسل

“Makanan terbaik bagi wanita nifas adalah kurma dan makanan terbaik bagi orang sakit adalah madu.”[1]

Metode penafsiran AL-Quran yang benar
Karenanya ini bisa menjadi pelajaran bagi kita agar berhati-hati dalam menafsirkan Al-Quran dan membawa-bawa AlQuran kemudian ditafsirkan dengan cara yang kurang tepat. Atau sesuai dengan kepentingannya saja.

Al-Quran butuh tafsir dan penjelasan sehingga yang jelas semakin jelas dan yang sebelumnya belum diketahui oleh manusia menjadi jelas dan tercerahkan. Akan tetapi tafsir Al-Quran tidak bisa sembarangan, tidak bisa ditafsirkan semaunya atau ditafsirkan menggunakan akal logika manusia semata.

Ahli Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bagaimana cara dan metode tafsir yang benar sesuai denga urutan prioritas.

  1. Menafsirkan AL-Quran dengan Al-Quran
    Karena ada ayat yang bisa menfasirkan ayat yang lainnya
  2. Menafsirkan Al-Quran dengan hadits dan sunnah
  3. Menafsirkan Al-Quran dengan tafsiran para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
    Karena mereka adalah murid langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan lebih tahu penjelasan mengenai ayat Al-Quran
  4. Menafsirkan Al-Quran dengan tafsiran para tabi’in (murid para sahabat)

Di antara mereka yang terkenal adalah Mujahid, Ikrimah, Atha’ bin Rabbah, Hasan Al-Bashri dan lain-lainnya.[2]

Hati-Hati dalam menafsirkan Al-Quran dan menyerahkan kepada ahlinya

Terutama mereka para sahabat, tabi’in dan para ulama. Semoga kita selalu bisa menjaga dan memahami tafsir Al-Quran sesuai dengan metode yang benar. Al-Quran adalah kitab suci yang sudah selayaknya kita perhatikan dan semoga kita tidak terjerumus, karena hal ini sudah diperingatkan dalam Al-Quran

Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (al-Isra: 36)

Masruq berkata,
اتقوا التفسير، فإنما هو الرواية عن الله
“Hati-hati dalam menafsirkan (ayat Al Qur’an) karena tafsir adalah riwayat dari Allah.”[3]

Demikian semoga bermanfaat

@Laboratorium Klinik RSUP DR. Sardjito, Yogyakarta tercinta
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel: www.muslimafiyah.com

[1] Lihat Tafsir Al-Baghawi
[2] Lihat muqaddimah Tafsir Al-Quran Al-Adzim Ibnu Katsir
[3] HR. Abu ‘Ubaid dalam Al Fadhail dengan sanad yang shahih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *